Tampilkan postingan dengan label Motor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motor. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Februari 2012

SMKN 2 SUBANG, Merakit Sepeda Motor Indonesia

Pendidikan menengah pertanian pernah kesulitan menarik peminat dari kalangan anak-anak muda. Sejumlah sekolah pertanian pun menyiasati dengan membuka program keahlian yang diminati masyarakat, seperti otomotif dan teknologi informasi, agar pamornya tak ”tenggelam”.

Siasat memperkaya program keahlian di pendidikan menengah pertanian seperti yang dilakukan SMKN 2 Subang, Jawa Barat, berhasil. Peminatnya meningkat, keunggulan di bidang keahlian otomotif muncul.

Sejak tahun 2009, siswa program otomotif dipercaya merakit sepeda motor Kanzen yang dikenal dengan merek Auriga Esemka. Perakitan sepeda motor itu kini mencapai 20 unit. Pemasaran menyasar lingkungan sekolah dan sekitarnya.

Rakitan sepeda motor itu menarik minat pemerintah daerah. Ada 10 sepeda motor yang dibeli Dinas Pertanian Subang.

Menurut Casidin, Kepala Program Studi Teknik Otomotif SMKN 2 Subang, sebenarnya ada permintaan dari instansi pemerintah Subang lain, yaitu sepeda motor Kanzen jenis Supermoto yang merupakan perkawinan motor trail dan bebek yang cocok untuk di lapangan.

”Cuma belum bisa dipenuhi sebab siswa SMK merakit untuk pembelajaran. Semua materi sepeda motor disediakan dan dikirim PT Kanzen Motor Indonesia ke sekolah,” kata Casidin.

Meski dikerjakan siswa SMK, perakitan sepeda motor Kanzen harus mengikuti standar industri. Pengendalian mutu dilakukan oleh pihak Kanzen.

Sebelumnya, para guru dari berbagai SMK program keahlian otomotif di Indonesia mendapat pelatihan merakit sepeda motor di PT Kanzen Motor Indonesia di Karawang, Jabar. Mereka dilatih sekitar satu bulan mulai dari tahap dasar hingga lanjut.

Selanjutnya, para guru melatih siswa sekitar dua minggu. Siswa didampingi guru merakit semua material sepeda motor yang dikirimkan PT Kanzen Motor Industri ke sekolah.

Material yang dikirim antara lain mesin, rangka, roda, garpu depan, cover body, knalpot, aksesori, wiring harness (rangkaian kabel sepeda motor), baut, dan peralatan kerja.

Perakitan dilakukan siswa di bagian kanan dan kiri. Pos pertama merakit rangka dan mesin. Pos kedua merakit garpu dan tangki bahan bakar minyak (BBM). Pos ketiga memasang roda. Pos keempat memasang rangkaian listrik dan cover body. Pos terakhir memasang aksesori.

Setelah selesai, hasil rakitan dicek di bagian pengendalian mutu. Hal ini untuk menjamin rakitan tidak bermasalah dan siap dipasarkan sesuai standar industri. ”Yang utama dicek mesin, kelistrikan, lampu sein dan penerangan, serta rem. Lalu uji kelayakan motor,” ujar Casidin.

Pemasaran dilakukan sekolah. Sepeda motor bebek Auriga Esemka dijual Rp 9,8 juta, Supermoto dijual Rp 12 juta.

Keahlian siswa SMKN 2 Subang merakit sepeda motor menarik minat perusahaan pengembang retrofit sepeda motor hibrida, yaitu PT Bimmer. Djlamprong Kartiko, salah satu pendiri PT Bimmer, mengatakan, retrofit sepeda motor hibrida ini dilakukan dengan memasang aksesori motor hibrida yang dibuat PT Bimmer untuk semua jenis sepeda motor. Dengan teknologi sederhana ini, sepeda motor bisa digerakkan menggunakan energi listrik dari baterai ataupun BBM.

Pameran sepeda motor hibrida dilakukan saat pelantikan taruna SMKN 2 Subang, pertengahan Januari lalu. Masyarakat cukup meminati produk ini karena memberikan solusi sederhana dan terjangkau mengatasi kenaikan harga BBM.

Sekolah ini bakal menjadi pilot project terkait retrofit sepeda motor hibrida, mulai dari penjualan aksesori motor hibrida seharga Rp 2,5 juta, pemodifikasian sepeda motor semua merek menjadi motor hibrida, hingga servis sepeda motor.

Kepala SMKN 2 Subang Priyanto yang ditunjuk menjadi Ketua Asosiasi Koperasi SMK Pengembang Sepeda Motor Hibrida (terdiri dari 50 SMK) menyambut baik kepercayaan PT Bimmer untuk mengembangkan keahlian siswa dalam merakit sepeda motor hibrida sekaligus pengembangan kewirausahaan.

Pabrik di sekolah

Sebelumnya, siswa SMKN 2 Subang ahli merakit kabel-kabel listrik untuk sepeda motor (wiring harness). Sejak 2004, perakitan itu dipercayakan PT Kinenta Indonesia Purwakarta, perusahaan pemasok wiring harness.

”Awalnya, siswa kami yang ke perusahaan di Cikarang. Kemudian produksi dipindahkan ke sekolah,” kata Tatang Supardi, pengelola teaching factory SMKN 2 Subang.

Jumlah siswa di sekolah ini 2.405 orang. Sebanyak 56 persen dari keluarga tidak mampu. Mereka dipekerjakan di perakitan sehingga bisa membiayai sendiri sekolahnya. SMKN 2 Subang juga membuka sekolah kelas jauh yang akan jadi SMK mandiri di 13 titik di Kabupaten Subang.

Dari satu teaching factory berukuran 60 x 12 m, kini berkembang jadi tiga. Saat ini ada 400 siswa direkrut bekerja. Mereka bekerja lima hari seminggu selama 7-8 jam dari pukul 08.30.

Sebagai pendidikan menengah kejuruan, pembelajaran kompetensi keahlian tidak hanya teori. Sekolah kreatif menciptakan peluang bisnis sesuai program keahlian di sekolah.

Sekolah ini memproduksi air mineral gelas dengan merek Esemka sebanyak 50 dus per hari memanfaatkan mata air di sekolah. Selain itu, juga pembuatan jus buah, seperti mangga, nanas, dan jambu, serta nata de coco bermerek Stempet.

Program keahlian pertanian yang menjadi inti pendidikan kejuruan di SMKN 2 Subang diperkuat. Pengolahan hasil pertanian terus dikembangkan, seperti pembuatan keripik, nugget ayam, dan bakso ayam wortel.

Potensi program keahlian tata busana juga berkembang. Setidaknya, siswa dari jurusan ini yang memproduksi seragam siswa dan guru.

Sekolah ini bakal digandeng perusahaan Jepang untuk memproduksi sarung tangan. Lagi-lagi, pabrik dihadirkan di sekolah dengan fasilitas peralatan dari perusahaan Jepang.

”Semua program keahlian didorong untuk berproduksi. Sebisa mungkin sekolah memperbanyak kesempatan praktik siswa dan mendorong kreativitas,” kata Priyanto. (Kompas, 4 Februari 2012/ humasristek)


ristek

Kamis, 02 Februari 2012

Motor Hibrida Jadi Solusi

Kenaikan harga bahan bakar minyak memang belum diputuskan pemerintah. Tetapi, opsi menaikkan harga bahan bakar minyak agar subsidi negara tidak membengkak tampaknya bakal segera dihadapi masyarakat.

Harga bahan bakar minyak (BBM) yang meningkat berimplikasi pada meningkatnya pengeluaran untuk transportasi. Sayangnya, alternatif penghematan harga BBM tak serius diperkenalkan kepada masyarakat.

Pengalihan pengguna BBM kepada bahan bakar gas yang direncanakan pemerintah juga dirasakan bukan solusi yang mudah.

Padahal, solusi sederhana dengan harga terjangkau telah digagas tiga anak bangsa yang peduli terhadap masalah penghematan BBM dan teknologi hijau. Aksesori sepeda motor hibrida tanpa mengubah sepeda motor yang memakai BBM diyakini mampu membantu masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, untuk menghemat pengeluaran membeli BBM.

Djlamprong Kartiko (Ketua Kelompok Keahlian Bidang Teknologi Industri Transportasi, Badan Kejuruan Mesin-Persatuan Insinyur Indonesia), Tutuko Wirjoatmoatmodjo (konsultan proses produksi usaha, praktisi, dan pengamat otomotif Indonesia), serta Agus Haryanto (praktisi industri rekayasa dan pengusaha) selama dua tahun ini mengembangkan retrofit sepeda motor hibrida. Dengan mempelajari sistem dalam sepeda motor listrik, mereka membuat aksesori yang membuat sepeda motor dari semua merek yang ada di pasaran bisa beroperasi dengan listrik dan BBM secara bergantian.

Prototipe sepeda motor hibrida telah dipamerkan dalam Konvensi Nasional Insinyur Mesin, Persatuan Insinyur Indonesia, tahun 2011 dan pameran di SMKN 2 Subang awal tahun 2012. Antusiasme pengunjung cukup tinggi dan pesanan mulai mengalir.

”Kami memang tidak menciptakan produk yang head to head dengan produk sepeda motor yang ada. Itu tentu saja berat. Jadi, produk kami ini semacam aksesori yang bisa dipasang ke sepeda motor yang ada,” kata Djlamprong.

Masyarakat tidak perlu mengubah bentuk sepeda motor, tetapi cukup menambahkan aksesori yang bisa dipindahkan ke sepeda motor lain. Dengan demikian, penghematan BBM bisa dialihkan untuk pembelian aksesori yang bermanfaat untuk jangka panjang.

Bergantian

Tutuko menjelaskan, sebenarnya alat-alat yang dibutuhkan untuk aksesori ini tersedia di pasaran. Namun, ketiga insinyur ini memodifikasi supaya dapat menjadi alat yang bisa membuat sepeda motor beroperasi dengan listrik dan BBM.

Penggerak roda depan sepeda motor diganti dengan motor utama atau add-on hybrid. Lalu ada kabel yang disambungkan ke speedometer. Bagian gas sepeda motor diberi pengendali berupa tombol on-off.

Semua perangkat itu disambungkan dengan empat baterai yang ditaruh di kotak kecil bagian depan motor. Saat pengguna motor hendak memakai sepeda motor listrik, persneling dinolkan. Pengguna tinggal mengegas saja sepeda motor.

Motor mendapatkan energi dari baterai yang bisa diisi ulang. Dalam prototipe sepeda motor hibrida yang dikembangkan dalam dua tahun ini, baterai dapat menggerakkan sepeda motor selama satu jam dengan kecepatan maksimal 60 km per jam.

Memang masih ada kelemahan, motor hibrida ini tidak kuat menanjak pada ketinggian 15 derajat. ”Pas tanjakan, ya... pengguna mengalihkannya dengan bahan bakar bensin. Ini bisa otomatis sebab sepeda motor bensin itu menggunakan roda belakang. Jadi, sepeda motor hibrida ini tidak bergantung,” kata Djlamprong.

Agus mengakui, sebenarnya teknologi baterai terus berkembang dan kini bisa tahan berjam-jam. Namun, pada tahap awal, mereka memilih baterai di pasaran yang harganya murah, sekitar Rp 2,5 juta.

”Sebagai tahap awal, prototipe ini sudah cukup. Nanti perlu juga dikembangkan supaya baterai bisa terisi saat sepeda motor melaju,” kata Agus.

Gandeng SMK

Pengembangan sepeda motor hibrida ini bukan hanya dipikirkan secara teknis. Kartiko, Tutuko, dan Agus yang mendirikan PT Berkah Mekar Mugi Rahayu (Bimmer) juga telah membuat konsep untuk pemasarannya dengan menggandeng koperasi SMK. Sebab, perusahaan dan pihak lain leluasa berbisnis dengan koperasi yang berbadan hukum.

Saat ini telah terbentuk Asosiasi Koperasi SMK Pengembang Motor Hibrida beranggotakan 50 SMK di berbagai daerah. Koperasi ini dapat menjalankan usaha menjual unit add-on hybrid, jasa pemasangan, pemeliharaan add-on hybrid, dan jasa sewa bengkel.

Potensi bisnis cukup besar karena saat ini ada sekitar 60 juta pengguna sepeda motor. Di tiap SMK setidaknya bisa menyasar sedikitnya 300 sepeda motor siswa dan guru untuk menjadi sepeda motor hibrida.

Jika sepeda motor hibrida terus berkembang, tahap selanjutnya SMK dikembangkan untuk memproduksi bagian-bagian aksesori.

Dalam benak pendiri PT Bimmer, tindakan nyata seperti ini ke depannya akan membuat Indonesia mampu mengembangkan teknologi otomotif yang hemat BBM dan berpihak pada teknologi hijau. Karena itu, harus ada kemauan bangsa ini untuk bisa memulai langkah nyata. (Kompas, 2 Februari 2012/ humasristek)


Ristek