Rabu, 16 Mei 2012

Indosat Luncurkan Kartu Internet Rp 25 Ribu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pengguna layanan data di Indonesia, semakin meningkat. Berdasarkan data Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, pada 2012 pelanggan broadband (internet cepat) di Indonesia diprediksi mencapai 30 juta orang, naik lebih dari 200 persen dibanding tahun lalu.

Peluang ini dimanfaatkan oleh operator Indosat, untuk meluncurkan kartu Indosat Internet dengan harga terjangkau, yaitu hanya Rp 25 ribu saja. “Dengan harga terjangkau, kartu ini memudahkan pelanggan untuk dapat menikmati penjelajahan di dunia maya,” ujar Group Head Product Development and Management Indosat, Sumantri Joko Yuwono, dalam siaran pers yang diterima Republika, Kamis (16/5).

Akses internet cepat, kini bisa semakin banyak dijangkau karena harga yang dipatok ini tidak terlalu mencekik. “Untuk menunjang akses data yang mudah dan cepat, kami juga sediakan jaringan 3,5 G,” katanya.

Kartu ini ditujukan kepada pelanggan prabayar yang menginginkan akses internet mudah tanpa batas saat menggunakan komputer, laptop, tablet dan perangkat lainnya. Dengan membeli kartu perdana senilai Rp 25 ribu ini pelanggan akan mendapatkan paket internet unlimited dengan batas pemakaian wajar 200 MB dengan kecepatan hingga 512 Kbps selama 30 hari.

Keunikan paket ini adalah pelanggan dapat memilih berbagai pilihan paket yang ditawarkan, mulai dari 50 ribu, 100 ribu, 150 ribu dan 200 ribu yang didukung dengan kecepatan tinggi. Selain dapat digunakan untuk akses internet, kartu ini juga dapat digunakan untuk Voice dan SMS.

Untuk memudahkan pelanggan, aktivasi Kartu Indosat Internet 25 Ribu dapat dilakukan melalui SMS dan Website. Untuk SMS dapat registrasi ke 4444 melalui handphone, untuk Portal dapat melalui website internet.indosat.com, untuk isi ulang kartu Indosat Internet berlaku sama dengan prabayar Indosat lainnya yaitu IM3,Mentari dan Indosat Mobile.

Pelanggan juga dapat melakukan cek pulsa melalui portal atau tekan *555# dari Handphone. Untuk Setting modem juga sangat mudah untuk dilakukan. Cukup dengan mengisi Dial Number *99# dan Indosat sebagai APN-nya.

Bandung Tuan Rumah Kontes Robot Nasional

Berlangsung 25-26 Mei 2012, pemenang akan ikut kontes robot internasional di Hong Kong.

VIVAnews - Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun ini menjadi tuan rumah kontes robot se-Indonesia yang akan digelar pada 25-26 Mei. Kompetisi itu berlangsung di kampus ITB Jatinangor, Sumedang.

ITB yang menjadi tuan rumah wilayah regional 2, akan menggelar lomba Kontes Robot Indonesia 2012 (KRI-2012) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) 2012. Kontes Robot Indonesia 2012 kali ini bertema "Grebeg Berkah Kedamaian dan Kesejahteraan".

"Sebanyak 67 tim yang berasal dari 29 universitas di Indonesia akan memperlihatkan kecerdasannya dalam kontes robot ini," ujar Kusprasapta Mutijarsa sebagai Ketua Pelaksana Kontes Robot KRI KRCI tingkat regional Wilayah II 2012 di gedung rektorat ITB, Rabu 16 Mei 2012.

Kusprasapta mengatakan bahwa kontes yang sudah diselenggarakan sejak 1994 ini, akan mempertandingkan empat kategori robot cerdas. Robot pemadam api beroda dan berkaki serta kategori robot soccer berkaki akan meramaikan pentas kontes robot ini.

"Indonesia telah beberapa kali mengadakan Kontes Robot Indonesia," ungkap Kusprasapta dalam pernyataan tertulis Rabu, 16 Mei 2012.

Kegiatan lomba sendiri akan diselenggarakan secara bertahap dimulai dengan diadakannya kontes Regional di 5 (lima) wilayah yakni  Medan, Bandung, Semarang, Surabaya dan Makassar. Lomba ini mengambil lokasi kegiatan di STMIK Potensi Utama Medan, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Institut Teknologi 10 November Surabaya, dan Politeknik Negeri Ujung Pandang.

"Nantinya para pemenang dari masing-masing Regional  tersebut akan diikutsertakan dalam Kontes Nasional KRI-2012 yang akan diselenggarakan tanggal 29-30 Juni hingga 1 Juli 2012 mendatang di kota Bandung," urai Kusprasapta.

Pemenang dalam kontes di Indonesia akan diikutsertakan pada kontes robot tingkat Internasional ABU Robocon di Hong Kong. (ren)


• VIVAnews

DEN: PLTN di Indonesia hampir tidak mungkin

Ilustrasi
Surabaya (ANTARA News) - Dewan Energi Nasional (DEN) menilai pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) atau pemanfaatan energi nuklir di Indonesia hampir tidak mungkin dilaksanakan.

"Secara teknis, nuklir atau PLTN untuk Indonesia itu hampir tidak mungkin, tapi bisa menjadi pilihan terakhir bila ada perkembangan teknologi nuklir ke arah lebih aman," kata anggota DEN Prof Ir Rinaldy Dalimi, PhD di Surabaya, Selasa.

Ia mengemukakan hal itu di sela-sela workshop "Skenario Kebijakan Energi Indonesia Menuju 2050" yang digelar DEN dan LPPM ITS dengan pembicara lain Ir Tumiran M.Eng PhD (DEN/UGM), Prof Mukhtasor PhD (DEN/ITS), unsur ESDM, BP Migas, Kadin Institute Jatim, dan Asosiasi Panas Bumi Indonesia.

Menurut dosen UI itu, ada empat hingga lima alasan yang menyebabkan PLTN hampir tidak mungkin di Indonesia, yakni PLTN akan mengharuskan Indonesia mengimpor uranium, karena uranium Indonesia tidak ekonomis.

"Alasan lain, dunia tidak akan mengizinkan Indonesia melakukan pengayaan uranium, karena Iran saja dilarang, meski pemerintahnya melawan," katanya.

Selain itu, alasan yang cukup berat adalah Indonesia merupakan "kawasan gempa" sehingga risikonya tinggi. "Kalau pun dibangun dengan tahan gempa, tentu biayanya akan mahal, sehingga harganya nuklir juga tidak akan murah, bahkan perlu subsidi," katanya.

Namun, alasan yang juga penting adalah Jepang sudah mematikan 54 unit PLTN pada dua minggu lalu, lalu Jerman juga akan mematikan seluruh PLTN-nya pada tahun 2025.

"Jadi, DEN merekomendasikan PLTN sebagai pilihan terakhir. Artinya, nuklir nggak akan dipilih selama energi alternatif (energi baru terbarukan/EBT) masih ada, apalagi energi alternatif di Indonesia paling beragam di dunia," katanya.

Senada dengan itu, anggota DEN Prof Mukhtasor PhD menilai PLTN itu membutuhkan dukungan finansial yang mahal untuk antisipasi risiko.

"Jepang saja memerlukan ratusan triliun untuk bangkit dari risiko nuklir yang dialami, apakah Indonesia punya anggaran sebesar itu? APBN kita saja tidak sampai ratusan triliun," kata dosen ITS Surabaya itu.

Oleh karena itu, katanya, pemerintah sebaiknya melirik energi alternatif di Indonesia yang cukup banyak, bahkan dunia juga akan melirik EBT karena harga EBT dengan energi konvensional akan setara pada tahun 2020.(T.E011/M026)



• ANTARA News

Selasa, 15 Mei 2012

Tujuh Ilmuwan Indonesia Raih Dana Hibah AS

Asisten Menteri Luar Negeri AS, Kerri-Ann Jones
Asisten Menteri Luar Negeri AS, Kerri-Ann Jones
Indonesia lebih banyak mendapat hibah dibanding negara lain di dunia.

Dalam rangka memelihara keanekaragaman hayati laut dan lingkungan, tujuh ilmuwan Indonesia memenangkan kompetisi untuk meraih dana hibah riset Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), sebesar 800 ribu dolar AS.

"Indonesia mendapatkan lebih banyak hibah dibanding negara lain di dunia," kata Asisten Menteri Luar Negeri AS, Kerri-Ann Jones seusai The First Indonesia US Joint Committee Meeting (JCM) on Science and Technology di Jakarta, Selasa (15/5).

Partnership for Enhanced Engagement in Research (PEER) AS menerima hampir 500 aplikasi dari 63 negara berkembang, dan diputuskan 41 proyek dari 25 negara yang mendapatkannya, tujuh di antaranya dari Indonesia.

Hibah ini, kata Jones, diharapkan akan mempertautkan ilmuwan dari National Science Foundation's (NSF) yang didanai pemerintah AS, dengan para ilmuwan Indonesia untuk meningkatkan kerja sama di bidang penelitian.

Ketujuh penerimah hibah tersebut adalah Sang Putu Kaler dari Universitas Mahasaraswati, Rudi Febriansyah dari Universitas Andalas, IGNK Mahardika dari Universitas Udayana, Frida Sidik dari Balai Riset dan Observasi Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Abdul Hamid Toha dari Universitas Negeri Papua, Gusti Z Anshari dari Universitas Tanjungpura, dan Jamaluddin Jompa dari Universitas Hasanuddin. Masing-masing memiliki mitra peneliti dari AS untuk pelaksanaan riset tersebut di Indonesia.

Sementara itu, dalam kaitannya dengan kerja sama yang sedang dimulai oleh AS dan Indonesia dengan menyusun Rencana Aksi bersama melalui JCM, Deputi Kemristek bidang Jaringan Iptek Ad Interim Prof Dr Amin Subandrio mengatakan, kedua negara sama-sama merasa optimis.

"Kerja sama ini dalam posisi yang sederajat, masing-masing negara sama-sama memiliki kemampuan dan kontribusi. Kedua negara menyediakan anggaran untuk kerja sama ini. Tak ada yang berada di posisi lebih tinggi dari yang lain," imbuhnya.

Kerja sama tersebut meliputi bidang iptek kesehatan, teknologi pertanian serta kelautan, yang berkaitan erat dengan keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim dan sengaja dipilih karena kedua negara menganggap ketiga bidang itu sangat penting.

Kemristek juga bekerja sama dengan Commercialisation of Research & Development Fund (CRDF) Global menyelenggarakan program yang bertujuan memberi pemahaman akan tata cara permohonan dana penelitian mulai dari mendesain sampai pelaporan sesuai standar internasional di Jakarta pada tanggal 15--16 Mei.


• Beritasatu

Lippo Grup Luncurkan Satelit Lippo Star

Satelit Lippo Star (sumber: Beritasatu.com)
Melalui satelit inilah masyarakat kita yang tinggal di pelosok bisa mendapatkan akses informasi

Lippo Group akan meluncurkan Lippo Star, satelit telekomunikasi yang akan membawa Indonesia ke era baru teknologi komunikasi dan informasi. Satelit ini diharapkan mampu mendukung pembangunan nasional dengan cara menghubungkan penduduk Indonesia yang tersebar di 17.000 pulau.

Lippo Group bekerjasama dengan perusahaan asal Jepang SKY Perfect JSat Corporation dan Mitsui Corporation akan meluncurkan satelit yang diberi nama Lippo Star pada pukul 07.13 malam tanggal 15 Mei 2012 di Guyana Perancis (waktu Guyana Perancis, berarti di Indonesia sekitar pukul 05.00 pagi tanggal 16 Mei 2012).

Rezlan Ishar Jenie, Duta besar Indonesia untuk Perancis, mengatakan pada hari Selasa (15/5) bahwa peluncuran ini merupakan satu peristiwa yang sangat penting bagi Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau.

"Melalui satelit inilah masyarakat kita yang tinggal di pelosok bisa mendapatkan akses informasi. ini penting dalam konteks membangun bangsa karena kita mendapatkan akses informasi, pengetahuan, dan memungkinkan kita untuk bisa saling mengenal satu sama lain," ujar Rezlan.

Satelit yang bermuatan 44 KU-Band transponder ini memiliki daya cakup seluruh Indonesia, benua Asia, dan wilayah Oceania pada umumnya. Lippo Star akan diluncurkan dari Ariane Launch Complex no. 3 (ELA 3) milik Arianespace di Kourou, Guyana Perancis. Satelit ini akan segera beroperasi pada tahun ini dan memiliki masa aktif 15 tahun.

Lippo Star seberat 4.350 ton yang dibuat oleh Lockheed Martin Commercial Space System akan dibawa ke posisi orbit 124 derajat bujur timur oleh roket Ariane-5ECA. Dengan satelit ini, anak perusahaan Lippo group bisa menyelenggarakan siaran Direct-To-Home (DTH) ke seluruh Indonesia. Dengan satelit ini juga, akan semakin banyak program televisi yang bisa dihantarkan langsung ke rumah pelanggan di seluruh Indonesia.

"Dalam konteks dunia sekarang kita harus bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Target kita ingin memiliki satelit dan kemampuan sendiri sehingga berbagai hal yang berkaitan dengan keperluan satelit bisa dikerjakan bangsa sendiri," kata Rezlan.

Rezlan mengapresiasi Lippo Group dalam mengembangkan sektor teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia dan berharap Lippo Group dapat menjadi pelopor dalam mengembangkan satelit secara mandiri.

"Dalam konteks kerjasama ini bukan saja kita mendapatkan kemamapuan untuk memanfaatkan satelit tapi juga dapat kemampuan untk meningkatkan kapasitas. Pelan-pelan harus kita bangun. Pada akhirnya kita ingin mandiri," kata Rezlan.

Dengan adanya satelit ini, Lippo Group juga berharap bisa meningkatkan pangsa pasarnya. Berdasarkan hasil penelitian Media Partners Asia, antara tahun 2011-2020, akan ada lebih dari 318 juta sambungan televisi berbayar di Asia. Indonesia berpotensi memiliki 5 persen dari jumlah tersebut.


Indonesia Tak Setuju Proyek Nuklir Korut

Presiden SBY menerima kunjungan kenegaraan Presiden Presidium Majelis Rakyat Tertinggi Republik Demokratik Rakyat Korea Kim Yong-nam di Istana Merdeka, Selasa (15/5)
Jurnas.com | MESKI jalinan bilateral Indonesia-Korea Utara begitu erat dan berjalan lebih dari 50 tahun, Indonesia tetap tidak setuju Korea Utara mengembangkan proyek nuklir untuk senjata militer.

Anggota Komisi I DPR bidang pertahanan dan hubungan luar negeri, Hayono Isman, mengatakan, Indonesia telah meneken ratifikasi Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji-Coba Nuklir (CTBT). "Indonesia tidak menyetujui nuklir sebagai kekuatan militer. Jadi kita tidak sejalan dengan Korea Utara," ujar Hayono di DPR, Jakarta, Selasa (15/5).

Menurutnya, Indonesia hanya menginginkan proyek nuklir digunakan untuk hal-hal di luar kemiliteran. Ia mengatakan, bagi negara-negara yang belum meratifikasi traktat tersebut untuk segera menandatanganinya, sehingga mengurangi potensi perang nuklir.

Menurutnya, bila proyek nuklir ini tetap dikembangkan akan mengancam keamanan perbatasan di kawasan Asia. "Kita tidak hanya membujuk Korea Utra, tapi juga Amerika Serikat, Pakistan, India, dan Korea Utara untuk meneken ratifikasi tersebut," ujarnya.

Menurut Hayono, pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Presiden Republik Demokratik Rakyat Korea atau Korea Utara, Kim Yong Nam, adalah peluang bagi Indonesia untuk membantu menciptakan keamanan di kawasan Asia. "Sehingga perbedaan politik maupun pertentangan perbatasan tak semestinya dengan mengambil jalan kekerasan," katanya.


LIPI Klaim Pupuk Starmik Dapat Perbaiki Kualitas Tanaman

Jurnas.com | LEMBAGA Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengklaim, salah satu hasil penelitiannya, yakni pupuk jenis Starmik, akanmemberikan keuntungan untuk para petani dalam mengelola tanaman. "Starmik sebagai salah satu produk pupuk berfungsi sebagai pengganti bahan kimia argo pada pertanian organik, dapat memperbaiki sifat kimia dan biologi tanah, menekan penyakit, dan menyuburkan akar serta menjaga kuantitas dan kualitas hasil panen." Hal itu dikatakan peneliti LIPI bidang Mikrobiologis dan Biochemist, Sarjiya Antonius kepada rombongan bupati se Kalimantan Timur yang berkunjung ke Pusat penelitian Bioteknologi LIPI, di Cibinong, Selasa (15/5).

Menurut Anton, Starmik tidak hanya mengatasi berbagai masalah pada tanaman pertanian dan tanah, tapi juga produk yang aman, ramah lingkungan dan bisa dikembangkan secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan, Starmik berasal dari berbagai ekosistem tanah yang telah diseleksi. Selain itu, aktivitas enzimnya pun sudah dikarakterisasi sesuai dengan fungsinya, yakni sebagai penyubur tanaman, biokontrol dan bioremediasi lahan. "Hasilnya, tanah menjadi sehat dan subur, kualitas dan produksi pangan meningkat, dan hasil pangannya sehat," tutur Anton.

Menurutnya, Starmik sangat efektif untuk rehabilitasi dan konservasi lahan pasca tambang. Di sini, Starmik akan memulihkan kembali aktivitas biologi tanah sehingga siklus nutrisi kembali normal dan berdampak positif menurunkan emisi gas rumah kaca (N2O). "Peran Starmik sebagai starter pembuatan kompos dengan bahan dasar limbah pertanian," ujar Anton.

Ia menjelaskan, saat ini Starmik sudah disebarkan ke beberapa daerah di Indonesia, seperti Malino, Wonogiri, Ngawi, Sukabumi dan Lampung.

Sementara itu, untuk proses penggunaannya, Anton menyatakan bahwa cukup empat kali, mulai dari awal penanaman sampai panen. "Jadi sejak awal menanam sampai panen, kita cukup menambahkan Starmik empat kali saja," ujarnya.