Senin, 02 April 2012

ITS Rancang Mobil Listrik

SURABAYA--MICOM: Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Jawa Timur, merancang mobil listrik sejenis city car yang diharapkan tuntas pada 2012.

"Kami memang terlibat dalam konsorsium perancangan mobil listrik Putra Petir, tapi kami juga merancang city car listrik sebagai alternatif," kata Pembantu Rektor (PR) IV ITS Prof Darminto di Surabaya, Minggu (1/4).

Didampingi PR I ITS Prof Ir Herman Sasongko, ia menjelaskan ITS menyiapkan dana Rp400 juta untuk membuat city car listrik yang diusahakan sudah jadi pada tahun ini.

"Pemerintah sendiri menyiapkan dana Rp100 miliar untuk mewujudkan mobnas (mobil nasional) listrik pada tahun 2014 dengan melibatkan empat universitas yakni UI, ITB, UGM, dan ITS," katanya.

Namun, katanya, ITS akan merancang city car sendiri sebagai alternatif, sebab ITS tidak ingin proyek mobnas listrik yang dirancang pemerintah itu gagal.

"Jadi, city car listrik yang kami rancang itu sebagai alternatif, karena mahasiswa kami sendiri sudah merancang mobil listrik sejak 2011 dan hasilnya sudah dicoba Menteri BUMN Dahlan Iskan (31/3)," katanya.

Menurut dia, ITS sudah berpengalaman terlibat dalam berbagai konsorsium dan produk alternatif itu ternyata dibutuhkan. "Itu kami lakukan saat terlibat dalam konsorsium pembuatan panser Anoa di era Wapres Jusuf Kalla," katanya.

Ia mencontohkan pengalaman lain dari ITS yang terlibat dalam konsorsium yang didanai Pemprov Jatim untuk pembuatan turbin dan
pemanfaatan tenaga mikro hidro, namun akhirnya tidak berhasil.

"Saat ini, kami juga terlibat dalam konsorsium yang melibatkan 16 institusi untuk pembuatan kapal perang rudal yang didanai Kemristek. Proyek itu didanai Rp1,8 miliar dan diharapkan selesai dalam tiga tahun," katanya.

Secara terpisah, pembimbing mobil listrik D3 Teknik Mesin ITS, Dedi Zulhidayat, mengatakan mobil listrik ini 100% dibuat mahasiswa ITS, mulai dari mengelas, merakit, hingga selesai.

"Karya mahasiswa itu semula dimaksudkan untuk mengikuti lomba yang diadakan Universitas Brawijaya Malang pada tahun 2011, tapi panitia membatalkan dan ke-10 mahasiswa terus melanjutkan hingga jadi," katanya.

Menurut dia, mobil listrik yang diberi nama Nagageni dan sudah dicoba Menteri BUMN Dahlan Iskan pada 31 Maret lalu itu berpenumpang dua orang dan menggunakan empat accu.

"Accu itu di-charge selama tiga jam dan akan dapat digunakan menempuh jarak sejauh 85 kilometer, sedangkan kecepatannya mencapai 30-45 kilometer per jam. Biaya pembuatan dalam bentuk kerangka sekitar Rp7-8 juta," katanya.

Bahkan, para mahasiswa saat ini sedang merancang Nagageni untuk tahap kedua dengan memanfaatkan energi kinetik atau energi yang dihasilkan oleh gerak untuk menjadi energi tambahan agar charge tidak cepat habis. (Ant/Ol-3)


MediaIndonesia

Games Mobile di Indonesia Melesat

TEMPO.CO , Jakarta- Apa jadinya kalau game developer buka-bukaan sepanjang hari? Hasilnya mencengangkan. Rupanya, industri game di Indonesia sudah maju pesat. Ini terungkap dalam pertemuan komunitas game, Gedebuk (http://gedebuk.org) yang menggelar acara Gedebuk Coy! di Hotel Cihampelas 2, Bandung pada 30 Maret 2012.

Gedebuk Coy! menghadirkan berbagai praktisi industri game berpengalaman di Indonesia. Mereka berbagi cerita dan kiat-kiat pembuatan game dengan game developer dan kalangan media.

Dihadiri oleh 33 studio game dari berbagai kota di Indonesia, termasuk Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Malang serta belasan media, acara ini dibuka oleh inisiator Gedebuk, Aditia Dwiperdana. Dia menjelaskan, Gedebuk akan jadi komunitas yang kondusif untuk mereka yang ingin belajar tentang pembuatan game, studio game pemula, maupun mereka yang sangat menyukai game.

Sejumlah founder dan CEO studio game kemudian mempresentasikan isu-isu yang sedang hangat di industri game Indonesia. Teddy Pandu, Chief Financial Officer Nightspade, membeberkan pengalamannya memperoleh investasi dari East Ventures. "Investor lebih tertarik pada founder yang komitmen menjalankan bisnis, bukan yang sekadar mendirikan bisnis untuk kemudian exit," tegasnya.

Kris Antoni, CEO Toge Productions--produsen game Flash yang terkenal di dunia internasional seperti Necronator dan Infectonator--berbagi kisah sukses. Dia juga berpesan agar game developer berhati-hati saat mengangkat isu sensitif dalam konten game.

Ada pula Guntur Sarwohadi, dari SoybeanSoft, yang menyarankan agar developer mengembangkan game untuk target yang terfokus (niche), bukan satu game untuk semua orang.

Sementara itu Dien Wong dari Altermyth, Wilson Tjandra dari Mintsphere, dan Wimindra Lee dari Agate Studio membagikan analisis mereka tentang tren di masa depan untuk industri game.

Dien Wong mengutarakan konsol akan terus menurun, sementara mobile game akan terus meningkat. Juga bahwa publisher luar mulai melirik pasar Indonesia, bukan hanya sebagai pasar, tapi juga sebagai sumber daya berpotensi besar. "Kita tidak perlu takut dengan hadirnya mereka. Masuk ya masuk saja. Biarlah dengan uang mereka kita bangunkan pasar untuk mereka. Sepuluh tahun lagi, kita bisa berdiri di atas kaki kita sendiri," yakinnya.

Wilson Tj menjelaskan tantangan yang dihadapi oleh mobile game developer. Sementara Wimindra Lee dari Agate Studio menguak rencana Agate untuk mengembangkan mobile social platform khusus game, Gempon, yang direncanakan perilisannya pada Juni 2012.

Unsur Lokal dalam Game, Pentingkah?

Dua sesi paling menarik di Gedebuk Coy! adalah sesi diskusi. Yang pertama, bertopik "Unsur Lokal dalam Sebuah Game, Pentingkah?", menghadirkan Ivan Chen dari Anantarupa Studio, Eko Nugroho dari Kummara, dan Ricky Nuriadi dari Amulet Studio. Dimoderatori oleh Frida Dwi dari Agate Jogja, diskusi itu menyimpulkan bahwa unsur lokal berguna bagi pengembangan game karena merupakan identitas bangsa, menambah keunikan game itu sendiri, dan mengandung faktor "coolness" (=keren) untuk memikat para gamer.

"Style yang benar-benar 'Indonesia' susah dicari, jadi lebih baik menggunakan pop culture ditambah value lokal supaya lebih mudah diterima masyarakat global," kata Ivan Chen.

Ricky Nuriadi pun mendukung. "Kita masih dalam perjalanan membentuk apa yang nantinya bisa disebut orang sebagai sesuatu yang 'Indonesia banget'."

Eko Nugroho menegaskan, "Mau bikin sesuatu yang positif lewat unsur lokal, boleh. Mau bikin sesuatu yang positif lewat unsur lain, boleh juga. Yang penting positifnya itulah yang diutamakan dan jadi keunikan game itu."[BS]


Google Gelar Festival UKM Nasional 2012

Bisnis- Lokal Go Online


JAKARTA, KOMPAS.COM - Untuk mendukung program “Bisnis Lokal Go Online”, Google bekerja sama dengan Marketeers menggelar Festival UKM Nasional 2012 pada Sabtu, 31 Maret 2012 di Gedung SMESCO, Jakarta.

Festival ini bertujuan untuk membangkitkan semangat wirausaha para pelaku UKM Indonesia dan membantu mereka dengan ilmu pemasaran, keterampilan wirausaha, dan sikap optimistis membangun bisnis ke depan.

Ribuan pelaku UKM hadir dalam acara yang didukung Kementerian Koperasi dan UKM (KUKM), KADIN, PANDI, Bakrie Connectivity, APTIKOM, Melsa, dan Multiply.com.

Festival ini juga menjadi bagian dari sosialisasi program yang diprakarsai oleh Google dan mitranya dalam Bisnis Lokal Go Online, sebuah inisiatif nasional untuk membantu pelaku UKM Indonesia membangun bisnis online mereka.

Program ini juga bertujuan menghilangkan hambatan-hambatan dalam membangun bisnis online, dengan menyediakan solusi yang gratis, cepat dan gampang agar bisnis online mereka bertumbuh kembang.

Festival UKM Nasional 2012 menjadi bagian dari upaya untuk melahirkan UKM berbasis online lebih banyak lagi.

Dengan tema "Menjadi UKM yang Solid dan Kreatif", hajatan ini diisi dengan seminar yang menghadirkan para pakar dan praktisi bisnis, seperti Hermawan Kartajaya (Guru Pemasaran), Bob Sadino (pewirausaha sukses), Mario Teguh (motivator), di samping Kementerian KUKM sebagai keynote speaker.

Acara dengan undangan khusus ini bertujuan untuk mengumpulkan ribuan para pelaku UKM seIndonesia.

Pada acara networking ini, para pelaku UKM akan mendapatkan update pengetahuan untuk mengembangkan wawasan bisnis dan meraih peluang-peluang pemasaran.

Mereka dengan syarat tertentu berhak mendapatkan situs web gratis, sudah termasuk nama domain dan hosting selama setahun.

Bisnis Lokal Go Online merupakan sebuah inisiatif dari Google dan mitranya yang diluncurkan pada 11 Januari 2011.

Program ini dilatarbelakangi oleh fakta banyaknya bisnis di Indonesia yang belum memanfaatkan potensi bisnis secara online. Lebih  dari 40 juta orang Indonesia secara rutin mengakses Internet dan lebih dari 130 juta menggunakan perangkat mobile untuk mencari informasi produk dan layanan.

Mereka menggunakan media online untuk mencari informasi tempat makan, film, olahraga, berita lokal, dan mereka melakukan riset online untuk rencana pembelian perangkat elektronik.

Statistik menunjukkan hanya 75.000 dari 17 juta UKM memiliki situs web (Sumber: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia). Alasannya, antara lain mereka menganggap bisnis online itu bisnis yang mahal, rumit, atau karena mereka merasa tidak memiliki banyak waktu.

Melalui Bisnis Lokal Go Online,  para pelaku UKM tersebut bisa segera online dalam satu hari (setelah pembuatan domain).

Terkait hal ini, Google akan menggunakan platform-nya Business SiteBulder, alat membuat situs web bisnis gratis yang secara otomatis terintegrasi dengan perangkat mobile, seperti ponsel pintar.

Business SiteBulder didesain untuk memecahkan hambatan-hambatan bisnis kecil untuk online secara mudah, cepat, dan gratis, termasuk mengelola situs webnya.


KOMPAS.com

Puluhan Aplikasi Buatan Lokal Siap untuk Windows 8

Aditya Panji/KOMPAS.com - Windows 8 Developer Preview Boot Camp


JAKARTA, KOMPAS.com - Saat Windows 8 resmi dirilis oleh Microsoft pada akhir tahun 2012, diharapkan sudah ada puluhan aplikasi asal Indonesia yang juga sudah tersedia di toko aplikasi online Windows Store.

Inilah tujuan dari penyelenggaraan Windows 8 Developer Preview Boot Camp yang digelar mitra kerja Microsoft di Indonesia, Navcore Nextology di Bandung selama 3 hari pada akhir Maret lalu.

Sebanyak 88 pengembang aplikasi dari 44 kelompok telah diberikan materi bagaimana membangun aplikasi untuk Windows 8 yang banyak ditambahkan fitur-fitur baru seperti Metro Apps, Live Tile, dan Charm Bar.

Mereka menargetkan ada 44 aplikasi untuk Windows 8 yang berhasil dibangun berkat acara tersebut. "Aplikasi-aplikasi ini rencananya diluncurkan bersamaan dengan launching Windows 8 nanti,” kata Farid Zulkarnain, Vice Presiden Navcore Nextology.

Dari berbagai aplikasi Windows 8 yang telah dirancang, sebagian di antaranya sudah dipresentasikan pada hari terakhir kegiatan. Tentu saja, pengembang aplikasi diizinkan untuk merevisi aplikasi yang dibuatnya dari acara ini.

Pihak Microsoft akan mengevaluasi apakah aplikasi-aplikasi tersebut layak untuk masuk ke Windows Store. "Microsoft akan sangat ketat menjaga ekosistem Windows 8, jadi aplikasinya dievaluasi secara ketat," ujar Direktur perusahaan software Tiga Belas Technology Yusak Setiawan.

Salah satu peserta pelatihan, CIO Urbanesia.com Batista R. Harahap, mengatakan, fitur yang paling bermanfaat dari Windows 8 adalah Live Tiles + Windows Push Notification Service. “Kalau melihat platform lain, Windows 8 bisa memberikan UI/UX (user interface/user experience-red) yang lebih kaya,” katanya.

Tersedianya Visual Studio 2011 di Windows 8, lanjut Batista, sangat membantu karena pengguna dapat membuat proof of concept dalam waktu yang relatif singkat. Dengan alat seperti Visual Studio 2011, cukup satu kode sumber untuk berbagai perangkat sehingga developer merasa lebih nyaman.

Navcone Nextology menargetkan ada beberapa aplikasi asal Indonesia yang bisa jadi Top App sehingga mampu memberi efek bagi industri software di Indonesia. “Kita akan siapkan Top App ini agar mampu crack the market,” tegas Farid.


KOMPAS.com

Armada Nasar, ABG pengembang aplikasi

Armada Nasar ((ANTARA/Adamizallulhaq))
Bandung (ANTARA News) -  Armada Nasar baru berusia 14 tahun,  tapi "anak baru gede" itu sudah jadi pengembang aplikasi.

Pada usia 14 tahun, ia sudah mendapatkan sertifikasi Microsoft Certified IT Professional (MCITP) langsung dari Microsoft. Dia  menjadi pemegang MCITP termuda se-Asia Tenggara karena kepiawaian dalam mengeksplorasi sistem operasi Windows dan Windows Phone.

Armada Nasar pada usia empat tahun  mulai browsing Google. Pada usia 7 tahun, ia sudah mencoba mengutak-atik HTML dan internet coding, Pada usia 10 tahun, ia sudah belajar visual basic.

"Saya kenal komputer sudah dari kecil, pertama kali lewat komputer saya yang jebot," kenangnya yang mewakili laman belanja Bhinneka.com dalam acara Windows 8 Developer Boot Camp di Bandung pada Jumat (30/3).

Soal pemrograman komputer bisa jadi turun dari  yaitu sang-Ayah yang seorang tenaga ahli komputer  admin data center salah satu perusahaan IT ternama di dunia.

"Biasanya, saya main komputer hingga delapan jam dalam sehari. Kalau belajar, saya home schooling.Nilai saya ketika SD juga nggak jelek-jelek amat rata-rata 9," kata pelajar kelas 3 SMP tersebut.

Kelahiran Bekasi 30 Juli 1997 itu mengikuti pelatihan komputer dari Iverson Technology dengan mendapatkan berbagai sertifikasi profesional seperti sertifikasi Iverson Techonogy 70-685 dengan nilai sempurna atau tertinggi yaitu 1.000 dari skala nilai 1-1000 pada 2010, lalu sertifikasi 70-642, 70-640 dan 70-646.

"Kuncinya, coba-coba aja terus, jangan menyerah. Kadang-kadang bosan juga sih," katanya memberikan bocoran kesuksesan dirinya.

"Saya ingin sekali bertemu dengan Bill Gates dan menanyakan,'Bagaimana caranya membangun perusahaan sebesar Microsoft'," katanya. Dia memiliki cita-cita menduduki kursi direktur Microsoft.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Armada sudah menyiapkan beberapa langkah yaitu masuk sekolah Home Schooling Kak Seto untuk SMU di Bandung. Setelah itu ia akan mengambil jurusan ilmu komputer di Massachusetts Institute Technology di Amerika Serikat. (adm)





ANTARA News

ATVSI Sayangkan Keluarnya Pedoman Penyiaran

Selain belum disahkannya UU Penyiaran, KPI juga tak melibatkan ATVSI dalam membentuk P3SPS

ATVSI
VIVAnews - Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) menyesalkan keluarnya Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) dari Komisi Penyiaran Indonesia. "Padahal, Dewan Perwakilan Rakyat belum mengesahkan Rancangan Undang-undang Penyiaran," kata Ketua Umum ATVSI Erick Thohir dalam pesan singkat, Senin 2 April 2012.

Selain belum disahkannya Undang-undang Penyiaran, KPI juga tidak melibatkan Asosiasi dalam pembentukan P3SPS itu. "Ini berbeda dengan Dewan Pers saat awal dibentuk," katanya.

Yang tak kalah penting, P3SPS KPI 2012, masih mengatur detil hal-hal yang seyogyanya sudah diatur dalam aturan lain, seperti UU Pers No. 40/1999 dan Kode Etik Jurnalistik. Padahal UU Pers sudah mencakup pengaturan konten jurnalistik dalam berbagai medium termasuk televisi.

Pengaturan mengenai siaran Pemilu dalam P3SPS 2012 masih memberikan peluang bagi lembaga lain untuk mengatur teknik peliputan dan penyiaran bagi pemilu tingkat daerah maupun nasional. Seharusnya KPI merujuk pada keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 32/PUU-VI/2008 tentang UU Pemilu tahun 2008 di mana Pasal 99 UU 10/2008 yang berpotensi penyensoran, pembredelan, dan pelarangan penyiaran yang berdasarkan UU 40/1999, dibatalkan oleh MK.

"Pengaturan mengenai Pemilu terutama terkait dengan program dan peliputan Jurnalistik, seharusnya diatur oleh KPI bersama Dewan Pers," katanya.

Sementara itu soal pengaturan iklan dalam industri televisi seharusnya dibahas secara intens dengan pelaku Industri. Karena iklan adalah urat nadi utama industri pertelevisian, terlebih lagi industri televisi Indonesia memiliki jumlah terbesar di dunia.

Pengaturan serta pembatasan soal iklan dalam P3SPS 2012 berpotensi merugikan industri televisi, termasuk televisi lokal. KPI seharusnya melihat konteks atas definisi iklan terhadap kebijakan tersebut dengan mendorong perkembangan industri penyiaran yang sehat.


VIVAnews

Kode Akses untuk Pelanggan Kartu Halo Berubah Jadi 133

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Mulai 1 April 2012, kode akses Customer Care by Online (Caroline) atau Call Center 111 dan 128  untuk pelanggan paskabayar Telkomsel/kartuHALO berubah menjadi 133.

Perubahan, kata head of corporate communication Telkomsel, Ricardo Indra, merupakan tindak lanjut dari Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM. 4 Tahun 2001 tentang Penetapan Rencana Dasar Teknis Nasional 2000 (Fundamental Technical Plan National 2000) Pembangunan Telekomunikasi Nasional sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 9/PER/M.KOMINFO/06/2010.

''Dalam Peraturan tersebut Pemerintah telah menetapkan bahwa kode akses dengan format penomoran 11X hanya diperuntukkan bagi layanan darurat (emergency call) bagi masyarakat,'' kata Ricardo Indra. Sebagai wujud kepatuhan Telkomsel terhadap peraturan Pemerintah tentang penataan kode akses layanan di Indonesia, Telkomsel melakukan perubahan kode.

Sebelumnya Call Center 116 untuk kartu prbayar Simpati dan KartuAs juga sudah berubah menjadi 155 sejak 1 Februari 2012.

Indra menambahkan bahwa seiring dengn cepatnya pertumbuhan industri telekomunikasi di Indonesia dan beragamnya karakter pelanggan, Telkomsel menyediakan berbagai pilihan saluran layanan pelanggan. Sesuai dengan kebutuhan seluruh pelanggannya yang saat ini berjumlah lebih dari 108 juta, Telkomsel telah memiliki 430 pusat layanan di seluruh Indonesia.

Selain pelayanan pelanggan melalui saluran telepon Call Center gratis, Telkomsel juga menciptakan t-Care yang merupakan layanan online bagi pelanggan untuk bisa mendapatkan informasi, transaksi, penawaran special, puk, billing dan lain-lain.

Melalui t-care, pelanggan memiliki layanan pribadi yang bisa diakses kapan saja. Untuk bergabung dengan t-care,pelanggan bisa mendapatkan pin t-care melalui www.telkomsel.com atau my.telkomsel.com, bisa juga melalui SMS ke 111 atau informasi melalui *111#.


REPUBLIKA.CO.ID